SAMARINDA – Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Samarinda, telah resmi beroperasi akhir Mei 2018 tadi. Bandara APT Pranoto menggantikan operasional Bandara Tumenggung.
Resmi beroperasinya Bandara dengan luas gedung terminal 12.700 m2 ini tentu saja disambut positif sejumlah pihak. Tidak terkecuali komunitas penerbangan di Bandara yang membentuk Baggage Handling Solution (BHS).
Pengelola BHS Akhmad Fauzi Shandi mengungkapkan, Baggage Handling Solution merupakan layanan khusus. Kendati demikian, BHS tidak mematok tarif yang mencekik. Ada tiga paket yang ditawarkan yakni silver, gold dan platinum. Misalnya paket silver. Asisten bagasi di Bandara akan mengantarkan bagasi dan penumpang ke ruang check in maspkapai. Tarifnya hanya Rp20 ribu.
Selain itu ada juga layanan gold. Dimana penumpang mendapatkan layanan spesial berupa pembungkusan (wrapping) bagasi sebelum melakukan check in. Ada pula paket platinum dengan tambahan layanan Lounge di Bandara.
“Selain itu, BHS juga menyediakan layanan Baggage Locker jika penumpang ini mengamankan barangnya di Bandara,” ungkapnya.
Diungkapkan Fauzi, hadirnya BHS di Bandara APT Pranoto Samarinda tentu saja untuk meningkatkan mutu dan kualitas layanan. Walaupun bandara ini baru saja dioperasikan, namun penumpang harus mendapatkan pelayanan maksimal.
Untuk diketahui, Bandara APT Pranoto ini sudah mulai dibangun oleh Pemprov Kalimantan Timur sejak 2011 dan selesai 2017. Kemudian pada 2018 diserahkan pada Ditjen Perhubungan (Ditjen) Udara untuk dioperasionalkan dan dikembangkan lebih lanjut melalui Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Temindung.
“Bandara yang baru tentunya harus didukung pula dengan layanan yang lebih bagus. BHS bisa menjadi solusi dan pilihan penumpang yang ingin bepergian tanpa kendala soal antrean maupun bagasi,” ujarnya.
Fauzi juga mengaku bangga sekaligus mengapresiasi pemerintah atas operasional Bandara APT Pranoto ini. Pasalnya, Bandara ini sangat mendesak untuk pengembangan konektivitas penerbangan di Samarinda.
Hal tersebut mengingat Bandara Temindung yang ada saat ini sudah tidak dapat dikembangkan. Panjang landasan yang berukuran 1.040 m x 23 m hanya bisa melayani pesawat sekelas ATR 42 dengan restriksi khusus. Landasan tidak bisa diperpanjang karena terletak di tengah permukiman padat kota Samarinda. Selain itu kompleks Bandara Temindung juga menjadi daerah langganan banjir. (yt)


MILENIAL: BHS di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda merangkul generasi milenial dalam memberikan layanan bagasi penumpang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here